Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2013

Detak Jantung

Semua insan manusia tentunya mau tidak mau, sadar tidak sadar, merasa tidak merasa pasti terdapat detak jantungnya. Yang jadi pertanyaan bagi saya adalah normal ngga sih merasakan hal itu? Nah, saya ngga mau langsung menjawab normal dengan cepat. Bagi saya detak jantung harus dibagi-bagi terlebih dulu sampai saya dapat menyimpulkan itu normal atau tidak. Pertama, saya mau membagikan ilmu yang saya dapat dari dosen general sciene saya saat semester 5 kemarin, menurutnya "Seorang manusia, jantungnya berdetak sekitar 60-80 kali permenit, namun ketika pada kondisi tertentu detak jantungnya dapat meningkat hingga hitungan yang tidak bisa ditentukan, tergantung pada aksi yang mempengarui reaksi tersebut."
Aksi yang mempengarui reaksi? Apa aksi yang membuat jantung saya dapat berdetak lebih cepat ya? Belakangan ini saya menjumpai beberapa orang yang share mengenai reaksi detak jantung mereka. Salah satunya adalah seorang muda, ia hendak mengikuti kompetisi tingkat provinsi untuk meraih medali nomor satu. Jadi disini yang akan kita bahas adalah lebih mengenai aksi apa saja sih yang mampu membuat jantung kita akan berdetak lebih cepat. Tulisan ini berdasarkan pengamatan saya pada orang-orang sekitar dan refleksi pribadiku.

Detak jantung yang berdetak lebih cepat lebih saya kenal dengan istilah "deg-degan". Sahabat the sleeper pasti pernah lah mendengar bahkan merasakan hal tersebut. Banyak orang juga yang mengistilahkan dengan grogi, nerveous, dan lain sebagainya. Tapi pada intinya saya kira sama saja. Pertanyaannya adalah apa saja yang menjadi pengaruh hal tersebut? Detak jantung berdetak lebih cepat lebih tidak terkendali, lebih membuat keringat cepat menetes.
1. Pertama adalah perasaan nervous, atau grogi. Seorang akan merasa detak jantungnya kacau-balau ketika ia merasa gugup. Salah satunya adalah pemuda yang share pada saya beberapa menit sebelum ia memasuki ruang lomba. Selain itu juga terdapat pemuda yang saat saya doakan akan mengikuti lomba berpidato sangat terasa getaran yang dihasilkan dari detak jantungnya. Sungguh cepat dan berkeringat. Memang saya dari awal sudah menekankan kepada mereka bahwa ketenangan adalah kunci kemenangan, namun perasaan grogi tersebut saya serta merta salahkan dan mereka harus menghilangkannya. Saya justru merasa bahwa saat mereka masih "deg-degan" berarti mereka masih memiliki tanggung jawab pada hal tersebut. Logikanya seorang yang tidak menaruh pikiran di suatu hal tertentu dapat dipengaruhi secara signifikan oleh hal tersebut dengan bentuk perasaan grogi. Jadi bukannya "deg-degan" itu hal yang salah, namun bagaimana kita dapat mengusai dan mengendalikan perasaan tersebut, hingga tidak mempengaruhi pikiran sehat kita.
2. Kedua adalah perasaan bersalah. Normalnya jika seorang melakukan kesalahan dia akan merasa bersalah yang salah satu indikatornya adalah perasaan tidak nyaman pada diri sendiri yang dapat ditandai dengan naiknya detak jantung. Perlu kita pikirkan lagi, apakah kita termasuk orang yang sering melakukan kesalahan dan merasa tidak bersalah? Hal tersebut karena kita telah terbiasa membunuh hati nurani kita. Nah, yang perlu dilakukan adalah melatih hati nurani kita kembali, agar dapat peka pada kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita. Bagi sahabat the sleeper yang hati nurani nya masih hidup, jaga baik-baik ya, jangan sampai kalian melakukan kesalahan dan bahkan sudah tidak merasa bersalah lagi. Belajarlah untuk mulai mendengar setiap nasihat, belajar untuk melatih hati nurani dengan perbuatan baik. Seperti pengalaman saya ketika duduk di bangku sekolah sekitar 4 tahun silam, saya sudah tidak merasa berdosa atau bersalah sama sekali ketika saya melakukan cheating ketika ujian, hal itu karena saya sudah membiasakan diri dengan kesalahan tersebut. Maka dari itu jangan sampai kejadian tersebut terjadi pada kalian, cegahlah selagi masih awal, biarkan hati nurani kalian tetap menyala dengan lampu kebaikan.
3. Ketiga adalah perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Kenapa tidak bisa? Karena saya sendiri sampai sekarang belum bisa menemukan alasan yang tepat dan logis kenapa saya dapat "deg-degan" ketika berinteraksi dengan beberapa orang. Banyak share dari teman-teman yang mereka merasa "deg-degan" ketika mereka melihat, berbicara, mendengar atau apapun yang mereka lakukan dengan seorang. Apa ini bisa menjadi salah satu indikator orang tersebut sedang merasakan jatuh cinta? Saya sendiri belum bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Karena detak jantung yang tiba-tiba meningkat ketika bisa berbicara atau bahkan melihat doi. Untuk poin ini saya jujur sangat susah menjelaskannya, karena saya sendiri belum bisa menyimpulkan atas apa yang sedang saya rasakan ini. Yang jelas detak jantung dapat menjadi alarm bagi kehidupan kita semua. Detak jantung dapat membuat kita tetap berhati-hati atas sesuatu, dan membuat kita menjadi insan yang lebih peka dalam mengartikan kejadian disekitar kita.
Demikian yang bisa saya bagikan, jika dari teman-teman sekalian memiliki pandangan lain atau masukan, jangan lupa untuk share yaa. Terimakasih, Tuhan Yesus memberkati.
salam,
the sleeper.
 
                                                                                  sumber:hizkiasasangka.blogspot.com

Kamis, 19 September 2013

Sebuah Arti Memberi

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.
Ini semua dapat diartikan :
supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.
Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.
Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.
Berkeras hati & berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi.
                                                                               sumber: hizkiasasangka.blogspot.com

Rabu, 18 September 2013

Tetesan Impian

Matahari kala itu berlahan merangkak naik, menyapu, memasuki setiap celah yang dapat ia tembus masuk. Eunike, seorang remaja yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional tingkat menengah terperanjak kaget. "Astaga, jam berapa ini? PR? Tugas? Aaaaaaaaa, kenapa aku bisa ketiduran, God...". teriakannya spontan menyadari bahwa semalam ia tertidur, terlalu lelah membawa rasa lelah yang membebani ruang hatinya. Padahal tinggal beberapa minggu menjelang berlangsungnya ujian nasional yang harus ia lewati jika ia ingin melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Eunike, cepat turun, teman mu sudah menunggumu di bawah" Suara teriakan seorang separuh perembuan paruh baya yang tidak lain adalah ibundanya. " Iya ma, sebentar, lagi sisiran." "Jangan sampe bikin temanmu yang menjemput justru menunggu, cepat turun." "Iya ma, sebentar lagi, bilangin ke Namoi tunggu bentar lagi ma, udah selese kok ini."
Eunike dengan Naomi memang sudah bersahabat sejak lama, mereka sudah mengenal satu sama lain sejak SD dan SMP. Kini mereka berdua sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi UN yang sebentar lagi akan berlangsung. Setelah semuanya telah dianggapnya selesai, Eunike segera menyambar 1 potong roti yang ada di meja makan, sembari berlari berpamitan dengan ibundanya, meminta restu untuk menjalani hari pagi itu. "Ma, berangkat dulu."

***
"Naomi, aku boleh cerita sesuatu sama kamu ngga? Belakangan pikiranku keganggu banget nih"
"mau cerita apa Eunike, cerita aja, aku pasti dengerin kok, siapa tahu aku juga bisa kasih solusi." jawab Naomi sembari memperlihatkan senyumannya yang ramah.
"Tapi kamu janji jangan kasih tahu hal ini ke siapun yaaa"
"Iya aku janji kok Eunike, aman rahasiamu di aku, tenang aja" lagi-lagi Naomi menjawab dengan senyuman tawanya.
Akhirnya Eunike menceritakan semua yang ada dalam perasaannya. Menceritakan secara mendetail apa yang menjadi setiap beban yang harus hatinya angkat. Meski tergolong masih remaja, mereka berbincang selayaknya sepasang orang dewasa yang sedang membicarakan rumah tangga mereka, bertukar pikiran, mencari jalan keluar bersama-sama.
***
Eunike sebenarnya adalah seorang gadis remaja yang kurang menonjol di sekolah, maklum, karena sekolah saat itu hanya mementingkan kemajuan kognitif, jadi jika kemampuan kognitifnya lemah, dia dianggap tidak menonjol di sekolahnya. Hal itu juga yang akhirnya membuat ibunda dari Eunike mencarikan tempat baginya untuk belajar lebih lagi, berkat kenalan dari sanak sodara, akhirnya Eunike dileskan dengan seorang guru les private. Semua itu diharapkan untuk membantu Eunike dalam kemampuan kognitifnya. Benar - apa yang diinginkan oleh sang orang tua terjadi, Eunike akhirnya meningkat secara kognitif. Namun hal ini memiliki cerita lain sendiri bagi Eunike, seorang remaja putri yang baru pertama itu mendapatkan "perhatian" yang belum pernah ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya.
Awalnya, hubungan Eunike dengan Michael layaknya guru dengan murid, ya selain memang sudah semestinya begitu, Michael yang saat itu menjadi tutor belajar Eunike juga memiliki selisih usia yang dirasa tidak mungkin jika mereka memiliki hubungan khusus. Namun karena memang Michael adalah seorang yang ramah dan pintar dalam bergaul, ia dapat dekat dengan siapa saja. Namun hal itu dipandang lain oleh Eunike, ia merasa hatinya disiram sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Mungkin sebagian orang dengan cepat akan mendefinisikan hal itu dengan - cinta.
Setiap Eunike mengalami kesulitan, baik dalam belajar maupun berteman, Michael lah yang selalu ada buatnya. Selalu menemaninya, ia yang selalu memberikan motivasi bagi remaja putri ini untuk melakukan suatu hal yang benar. Bahkan Michael juga yang pertama mengantongi ijin dari orang tua Eunike untuk mengajak remaja putri ini bepergian dari rumah. Ya sepertinya bunga-bunga asmara yang ada di hati Eunike bermekaran, tumbuh dengan subur, hingga benar-benar ia merasakan suatu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***
"Terus apa yang jadi masalah kalo yang aku dengar dari ceritamu ini adalha hal yang sangat indah bagimu?" tanya Naomi memotong cerita dari Eunike.
"Justru ini yang jadi masalahnya, entah kenapa belakangan ini dia sangat berubah, mi. Dia udah ngga pernah hubungin aku lagi, dan sepertinya dia justru lebih dekat sama Lidya, murid barunya." jawab Eunike. "Aku ngga bisa, mi. Aku ngga sanggup kalau harus kehilangan dia, dia yang biasa jadi motivasiku waktu aku ulangan harian, dia yang jadi motivasiku waktu aku banyak masalah, dan sekarang sebentar lagi kita kan UN, dan aku harus kehilangan dia yang selalu memberikan impian ke aku? Aku ngga sanggup, mi." lanjut Eunike sambil matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tuh lucu ya, masa galau gara-gara soal cowo. heeee." Jawab Naomi dengan ringan.
Obrolan mereka berlanjut, Eunike berusaha mencurahkan apa yang ada dibenaknya. Apa yang menjadi segala beban dan keluh kesahnya. Ia sangat takut, ketika Impiannya itu menetes dan mengalir ke sungai dengan aliran yang lebih menjanjikan daripada kepunyaannya. Eunike belum sanggup menerima hal itu, hatinya masih terlalu rapuh.
"Aku kan cuma butuh motivasinya, aku cuma butuh semangat seperti biasanya darinya. Hanya itu, sebentar lagi aku Ujian Nasional. Aku seperti ngga sanggup" batin Eunike dalam hati.
***
Ujian Nasional berlalu, Eunike berhasil lulus, ia melewatinya dengan teriakan dalam hati, tak bersuara, namun sangat keras. Harapannya mendapat sepotong semangat dari seorang yang diimpikan, melayang terbang, hanyut terbawa arus air yang begitu kencang menabrak dinding-dinding hatinya. Setidaknya terlihat sedikit senyuman kecil di ujung bibirnya, karena ia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tapi tantangan yang dialaminya tidak berhenti sampai disana saja. Beberapa temannya mengetahui kondisi yang dialaminya. Siapa lagi? Ya tentunya jelas Naomi, sahabatnya yang ia percaya, justru tidak dapat menjaga kepercayaannya dengan bijak. Dia menghancurkan keterbukaan yang sedang Eunike bangun, membuatnya kembali menjadi seorang yang susah untuk percaya.
Selain itu, Michael sempat memberikan pernyataan yang dapat diartikan sebagai sebuah harapan bagi Eunike, tapi kembali, hanya sebuah harapan kosong. Kesakitan kembali menyelimuti didnding hati Eunike, remaja yang baru saja menginjakan kaki di jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Rasa sakitnya, ketika tidak mendapatkan perhatian darinya, ketika melihatnya begitu dekat dengan wanita lain. Kembali lagi, ya sudahlah.
Impiannya kini telah berlalu, Eunike ingin menyongsong masa depannya. Meraih asa yang telah lama ia gantungkan di bintang sana. Meski dengan kepedihan yang ia jalani, ia harus menyadari bahwa memang ia bukan ada di hati Michael. Ia belajar bagaimana yang orang sering sebut dengan istilah "move on" tapi tentunya hal tersebut bukanlah perkara yang mudah baginya. Tantangan demi tantangan dihadapinya. Tapi tentunya hal itu akan membuatnya menjadi seorang yang lebih kuat dan siap.
Lantunan lagu MLTR dengan judul "The Actor" saat itu mencoba menghibur hatinya. Ia memang tidak memiliki apa-apa, hanya ketulusan yang berbalut kopolosan yang dimilikinya. Tapi biarlah Sang Penenun Agung yang merajut setiap detail kehidupannya. Membuatnya menjadi seorang yang sangat luar biasa nanti. Asalkan impian yang telah lama digantungnya itu tidak dibiarkan menetes habis, tapi biar terjaga dan siap untuk diraihnya.
Setiap cerita berawal dari debu, dan pasti akan kembali menjadi debu, Nafas yang memberi warna dan keindahan dari tumpukan debu tersebut. Cerita itu yang telah dibatasi oleh waktu, tentu hanya waktu juga yang dapat menjawabnya, ini hanya soal waktu. Tak perlu berlama-lama tersayat oleh perasaan sedih ini, semua yang telah diberikan untuk nya yang paling dikasihi dan ditolaknya, tentu hanya soal waktu, ketika nanti dia tersadar betapa besar apa yang sebenarnya akan diberikan utuknya, meskipun terbungkus sebuah kesederhanaan dari arti ketulusan.
"Terimakasih Impianku, tak akan aku biarkan kamu menetes habis. Kelak aku kan meraihmu, meraih Impianku. Karena Impianku tidak hanya terpatok pada kehadiranmu Michael. Impianku ini bukan sebuah mimpi yang kecil, ini suatu hal yang jauh lebih besar lagi."
***

                                                          sumber: hizkiasasangka.blogspot.com

Pohon, Daun, dan Angin

POHON

Orang-orang memanggilku “Pohon”, itu semua karena aku sangat ahli dalam menggambar sebuah pohon. Karena itu setiap membuat suatu lukisan, aku selalu menambahkan gambar pohon di sisi kiri bawah sebagai tanda dalam semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak lima kali sewaktu masih SMA, dan ada seorang wanita yang sangat aku sayangi. Namun, aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Wajahnya tidaklah cantik, tidak seksi, tapi dia sangat peduli kepada orang lain. Aku menyukainya, bahkan sangat menyukainya. Menyukai gayanya yang santai dan apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya dan kekuatannya, semua membuatku kagum. Tapi aku tidak pernah mengajaknya untuk berkencan, karena terkadang aku merasa bahwa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Dan aku juga takut, kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah “sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batas dan tidak harus memberikan semua hanya untuknya.
Selama tiga tahun ini, dia tahu kalau aku mengejar gadis-gadis lain, dan itu telah membuatnya sering menangis selama ini.
Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan ia melihatnya. Dia hanya tersenyum kepadaku, dengan berwajah merah dia berkata “lanjutkan saja” lalu pergi meninggalkan kami. Esoknya, kudapati matanya bengkak dan merah. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkan dia menangis. Ketika kelas sudah kosong, dan semua telah pulang, dia masih tinggal sendiri di dalam kelas hanya untuk menangis. Aku menjumpainya ketika kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis disana.
Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya, pernah mereka berdua terlibat perang dingin. Aku tahu kalau bukan sifatnya untuk memulai pertengkaran. Tapi aku tidak mempedulikannya, dan masih tetap bersama pacarku. Aku pernah berteriak padanya, dan itu membuat matanya penuh dengan kesedihan. Aku tidak memikirkan perasaannya dan malah pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esok hari, kami kembali akrab dan tertawa penuh canda bersama seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu, bahwa ia sangat sedih dan kecewa, tapi ia tidak tahu kalau sakit hati yang aku rasakan sama buruknya dengan yang ia rasakan.
Ketika aku putus dengan pacar yang ke 5, untuk pertama kali aku mengajaknya untuk pergi. Setelah kencan itu, aku mengatakan sesuatu kepadanya, bahwa ada sesuatu yang ingin aku katakan. Lalu dia menjawab,  “kebetulan sekali, aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu…” Aku bercerita padanya kalau kini sudah putus dengan pacarku, sedangkan dia bercerita bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Katanya, pria itu sering mengejarnya selama ini, seorang pria yang baik, penuh energi dan menarik, namanya adalah Angin.
Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiku, aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, kekecewaanku bertambah kuat sampai-sampai aku tidak sanggup menahannya. Akupun hanya bisa menangisi kebodohanku selama ini. Ketika upacara kelulusan tiba, aku membaca sebuah SMS yang sudah lama dikirim, mungkin sekitar 10 hari yang lalu saat aku terakhir kali berbicara dengannya. SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup, atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal…?”.

DAUN


Dulu saat masih SMA, aku suka sekali mengoleksi dedaunan. Mengapa…? Karena aku merasa bahwa, daun meninggalkan sebuah pohon yang ditinggalinya selama ini, membutuhkan banyak kekuatan.
Selama 3 tahun di SMA, aku dekat dengan seorang pria. Dia bukanlah pacarku, tapi ia “Sahabat” ku. Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kali, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu cemburu. Mereka hanya bersama selama dua bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembira. Tapi, sebulan kemudian dia kembali bersama seorang gadis.
Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak pernah memulainya untuk melangkah? Ketika dia berganti pacar baru lagi, hatiku semakin sakit. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik, bila ia hanya menganggapku sebagai seorang teman?
Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan seorang wanita untuk mengatakannya lebih dulu bukan? Di luar dari itu, aku mau tetap disampingnya. Memberikannya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku. Aku tahu, sesibuk apapun, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku rela menunggunya selama 3 tahun, meski cukup berat untuk kulalui.
Ketika diakhir tahun ke 3, ada seorang pria lain mengejarku, dia adalah adik kelasku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan-penolakan yang telah ku alami, aku merasa bahwa ada baiknya memberikan dia ruang kecil di hatiku.
Dia seperti angin yang hangat dan lembut, yang mencoba meniup daun untuk terbang jauh dari pohon. Aku tahu, angin itu akan membawa pergi sehelai daun yang lusuh terbang jauh ke tempat yang lebih baik, dan akhirnya daun pun meninggalkan pohon itu. Tapi pohon hanya tersenyum dan tidak meminta daun untuk tinggal, aku sangat sedih melihatnya tersenyum ke arahku.
“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal”

ANGIN


Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, dia sangat bergantung pada Pohon, maka aku harus menjadi Angin yang kuat untuk menerbangkannya.
Ketika aku baru pindah sekolah, aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memperhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Suatu hari, dia tidak tampak, dan itu membuatku merasakan kehilangan.
Seniorku juga tidak ada saat itu, maka aku pun pergi menuju kelas mereka. Melihat seniorku sedang memperhatikan daun, air mata mengalir di pipiku. Esoknya, aku melihat daun sedang berada di tempat biasanya tengah memperhatikan Pohon. Aku lalu melangkah menghampiri dan tersenyum kepadanya, lalu menulis sebauh catatan dan memberikan kepadanya. Dia melihat ke arahku sambil tersenyum dan menerima catatan dariku. Esoknya, daun menghampiriku dan memberikan sebuah catatan. Ternyata, hati daun sangat kuat dan Angin tak bisa meniupnya pergi.
Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku. Selama empat bulan, Aku telah mengucapkan kata cinta sebanyak 20 kali kepadanya. Setiap kali aku mengucapkannya, dia selalu mengalihkan pembicaraan kepada pohon. Tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk terus dan terus mengajaknya terbang bersamaku.
Suatu hari aku meneleponnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan, kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?”, dia menjawab, “Aku selalu menengadahkan kepalaku”.
“Apa…?” Aku tidak percaya apa yang aku dengar.
“Aku menengadahkan kepalaku” dia berteriak.
Segera aku meletakkan telepon, dan berlari ke rumahnya. Saat dia membuka pintu, aku langsung memeluknya dengan erat.
“Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.


sumber: spicaku.blogspot.com